Jambi — Puluhan Ribu ekor ikan nila milik petani keramba jaring apung di Desa Aro, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi mendadak mati secara massal. Fenomena ini diduga kuat terjadi akibat penyusutan debit air Sungai Batanghari setelah wilayah tersebut dilanda musim kemarau selama beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan pantauan di lokasi, bangkai ikan nila memenuhi wadah-wadah keramba milik warga. Kondisi yang berlangsung selama sepekan terakhir ini memaksa para pembudi daya menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Kepala Desa Aro, Rusli, yang juga merupakan salah satu pemilik keramba terdampar, mengungkapkan bahwa ada sekitar 15 unit keramba di kawasan tersebut yang terkena dampak. Empat di antaranya adalah milik Rusli sendiri.
”Kalau keramba saya masing-masing berisi 15 ribu ikan. Dari empat keramba milik saya, semuanya mati total,” ujar Rusli kepada awak media.
Akibat kejadian ini, Rusli memperkirakan kerugian materiil yang dialaminya mencapai lebih dari Rp50 juta rupiah.
Guna meminimalisasi potensi kerugian yang lebih besar, sejumlah petani terpaksa melakukan panen dini. Meski belum memasuki usia panen yang ideal, langkah ini diambil karena kekhawatiran akan kematian ikan yang berlanjut seiring belum membaiknya kondisi debit air sungai.
Desa Aro sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi ikan keramba jaring apung terbesar di Kabupaten Batang Hari. Para petani khawatir, jika kondisi ini terus berlarut-larut, dampak kerugian tidak hanya memukul perekonomian warga lokal tetapi juga mengganggu pasokan dan produksi ikan keramba di daerah tersebut.
Saat ini, para petani berharap Pemerintah Kabupaten Batang Hari segera turun tangan memberikan bantuan serta mencari solusi konkret untuk mengatasi krisis air yang menimpa pembudi daya ikan di aliran Sungai Batanghari.(Ilham)







