JAMBI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih membayangi wilayah Provinsi Jambi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha Jambi mengimbau masyarakat serta pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Karhutla, khususnya di kawasan yang memiliki persebaran lahan gambut.
Prakirawan BMKG Jambi, Jaya Martuah Sinaga, mengungkapkan ada lima kabupaten yang menjadi fokus perhatian utama karena masih berpotensi tinggi terjadi Karhutla hingga pertengahan Oktober.
”Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Sarolangun, Tebo, hingga Kabupaten Batanghari,” ujar Jaya Martuah Sinaga.
Kondisi tanah yang kering di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan masih berpotensi memicu munculnya titik panas (hotspot). Di saat yang sama, tim Satgas Gabungan di lapangan masih terus berjibaku melakukan pemadaman serta pendinginan di sejumlah titik kawasan lahan yang terbakar guna mencegah meluasnya kobaran api.
Kualitas Udara Sempat Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Dampak dari Karhutla dan kabut asap ini juga mulai memengaruhi kondisi udara dan pandangan di Jambi. BMKG mencatat jarak pandang (visibility) pada pagi hari berkisar antara 1.000 hingga 3.000 meter akibat tertutup kabut asap. Namun, seiring terik matahari pada siang hari, jarak pandang membaik menjadi 3.000 hingga 5.000 meter sehingga aktivitas penerbangan di bandara masih tergolong aman.
Meski penerbangan berjalan lancar, kualitas udara di Jambi menjadi perhatian serius. Dalam kurun waktu lima hari terakhir, tingkat kualitas udara terpantau berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Awal Musim Hujan Diprediksi Akhir Oktober
Pihak BMKG memprakirakan Provinsi Jambi baru akan memasuki awal musim hujan pada akhir Oktober. Turunnya hujan nantinya diharapkan dapat meningkatkan kelembapan tanah dan kawasan lahan gambut secara signifikan.
Dengan meningkatnya kelembapan tanah, risiko munculnya bencana Karhutla serta ancaman kabut asap diharapkan dapat ditekan secara optimal. (**)







