JAMBI — Keindahan seni tradisi sulam benang emas terus dirawat dan dilestarikan oleh kelompok UMKM Emak-Emak Usaha Mandiri di Kelurahan Tanjung Pasir, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi.
Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan zaman, kerajinan tangan bernilai seni tinggi ini tetap bertahan sebagai warisan budaya kebanggaan masyarakat Seberang Kota Jambi.
Defi, salah seorang pengrajin sulam benang emas yang telah bertahun-tahun menekuni seni tradisi ini, berkomitmen penuh untuk menjaga warisan kreativitas perempuan Seberang Kota Jambi agar tidak punah. Keahlian merangkai benang emas tersebut ia dapatkan secara turun-temurun dari keluarganya.
”Sulam benang emas ini merupakan tradisi yang diturunkan secara turun-temurun dari nenek moyang dulu, mertua, hingga kini kami teruskan ke generasi selanjutnya,” ujar Defi saat ditemui di sanggarnya.
Butuh Ketelatenan dan Kesabaran Ekstra
Proses pembuatan sulam benang emas tidaklah mudah. Membutuhkan ketelatenan serta kesabaran ekstra mulai dari tahap menyiapkan bahan kain, memasang benang emas, hingga membentuk beragam motif yang memikat. Setiap lekuk motif menyimpan keunikan tersendiri yang menjadi identitas kuat budaya Jambi Seberang.
Defi menjelaskan bahwa motif yang dibuat sangat fleksibel dan disesuaikan dengan permintaan serta peminat pasar. Salah satu motif yang populer dan kerap dipesan adalah motif daun sirih.
”Tergantung peminat dan permintaan pasar, seperti contohnya motif daun sirih. Untuk jenis produknya, kami biasa menerima pesanan baju, kotak tisu, hingga tas batik yang bervariasi dengan sulaman benang emas,” jelasnya.
Selain hiasan dan aksesori, produk unggulan lainnya adalah baju Melayu. Berbeda dengan pakaian pengantin yang biasanya dipenuhi hiasan sulam (full), sulaman pada baju Melayu dibuat lebih elegan dengan penempatan di bagian tertentu.
”Kalau untuk baju Melayu, biasanya tidak full. Hanya diproduksi dengan variasi benang emas di bagian lengan tangan dan bagian bawah baju,” tambah Defi.
Harga Terjangkau Langsung dari Pengrajin
Mengenai harga, satu set pakaian sulam benang emas dibanderol bervariasi tergantung pada kerumitan motif yang dikerjakan.
”Satu set pakaian harganya berkisar antara Rp4,5 juta hingga Rp5 juta, tergantung dari motifnya. Namun, harganya tentu bisa lebih terjangkau jika pembeli memesan secara langsung kepada pengrajin,” ungkapnya.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan beragammnya minat generasi muda, kehadiran pengrajin seperti Defi menjadi titik terang dalam menyelamatkan seni sulam emas Jambi dari ancaman kepunahan. Kerajinan ini bukan sekadar produk kriya biasa, melainkan identitas dan warisan leluhur yang membuktikan bahwa tangan-tangan terampil perempuan Jambi mampu menjaga kekayaan budaya lokal tetap hidup dan berdaya saing. (Dar)







